articles | Perkantas Graduate Center
  • Home
  • About
    • History
    • Vision & Mission
    • Photo Gallery
  • Interest Group
    • Alone With God
    • Forum Diskusi Alumni
    • Forum Pengkajian Strategis
    • Family Ministry
    • Mini MBA
    • Starting Your Business
    • Education Desk
  • Professional Group
    • Teacher's Christian Fellowship
    • Kelompok Bisnis Alumni
  • PAK's Corner
    • PAK Jakarta
    • PAK Medan
    • PAK Makassar
    • PAK Salatiga
    • PAK Yogyakarta
    • PAK Balikpapan
    • PAK Banjarmasin
    • PAK Pekanbaru
  • Events
  • Articles
    • Nurturing Your Spiritual Life
    • Kehidupan Yesus
    • Kesendirian Bersama Tuhan
    • Balancing Work Family and Church
    • Lakukan yang Anda Bisa Untuk Tuhan
  • Informations
    • Tempat Retreat
    • Lowongan Pekerjaan
    • Resensi Buku
    • Beasiswa
    • Narasumber
    • Link Website
  • Contact
    • Contact Us

Artikel Baru

  • Nurturing Your Spiritual Life
  • Kehidupan Yesus
  • Kesendirian Bersama TUHAN
  • Balancing Work Family and Church
  • Lakukan yang Anda Bisa Untuk Tuhan
Home  >  Articles

articles

Submitted by admin on Thu, 05/15/2008 - 09:54.

NURTURING YOUR SPIRITUAL LIFE

Saat ini kita hidup di Dunia yang sangat materialistik. Senang atau tidak senang, kita banyak dipengaruhi oleh globalisasi. Segala sesuatu kini menjadi sangat komersil. Pendidikan, kesehatan, semuanya serba profesional. Profesional bukan dalam arti profesi, melainkan dari nilai uang.

Di tengah dunia yang materialistik ini kita pun masuk dalam kebingungan. Hidup seolah seperti komedi putar, makin cepat dan makin cepat, namun tidak bisa keluar dari putaran itu. Untuk menjaga keseimbangan di dalam perputaran yang semakin cepat itu kita perlu memelihara kehidupan rohani melalui waktu sendirian dengan Allah (Alone with God - AwG)

Ada empat hal yang perlu kita lakukan di dalam ber-AwG, yakni:

  1. Solitude (kesendirian)
  2. Silence (keheningan)
  3. Stillness (ketenangan)
  4. Simplicity (kesederhanaan)

Solitude, silence, stillness, simplicity saling berkaitan dan dalam penerapannya sering merupakan satu kesatuan.

SOLITUDE

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalam dunia yang semakin maju, orang justru merasa kesepian atau sendirian. Teknologi yang sangat mudah digunakan dan kita miliki membuat kita semakin kesepian. Presiden AS yang pertama menggunakan media radio sebagai saluran komunikasinya. Para pendengarnya duduk berkumpul mendengarkan orasi sang presiden saling memandang dan berkomentar satu sama lain. Ada interaksi di antara pendengarnya. Situasinya berbeda ketika presiden era berikutnya menggunakan televisi sebagai sarana komunikasi. Mata pendengarnya tertuju pada gambar dan tidak ada interaksi di antara mereka. Ini salah satu contoh di mana teknologi telah mengalihkan fokus hidup kita.
Alat komunikasi yang lain adalah handphone. Sekarang ini penggunaannya sangat marak, tetapi itu pun memisahkan orang. Hidup yang terkoneksi oleh teknologi menggambarkan hidup bersama-sama tetapi tidak saling berkomunikasi. Dalam sebuah perjalanan saya pernah menyaksikan satu mobil yang ditumpangi oleh empat orang. Ketika mobil berhenti di lampu merah, keempat orang itu bukannya saling berbicara mealinkan mengeluarkan handphone-nya dan berbicara dengan lawan bicaranya masing-masing. Kondisi tersebut membuat orang merasa semakin kesepian.

Di dalam dunia yang materialistik, masalah-masalah kesepian diatasi dengan entertainment. Akan tetapi entertainment saja tidak dapat menghbungkan orang-orang. Sekelompok orang yang lain memilih kegiatan di organisasi politik sebagai jawaban atas masalah kesepiannya.

Bagaimana kita dapat mengatasi masalah-masalah kesepian di dunia yang materialistik ini? Kita perlu memiliki komunitas sendiri. Namun untuk mendapat komunitas tersebut kita perlu melakukan atau memiliki solitude (kesendirian). Solitude berbeda dengan loneliness (kesepian). Seseorang yang melakukan solitude, ia sendirian bersama Tuhan, dan memiliki kepenuhan di dalam rohnya. Sedangkan seseorang yang lonely, ia sendirian tanpa Tuhan, sehingga ia alami kesepian.
Kita yang merasa kesepian, harus bergerak ke arah solitude, sendirian bersama Tuhan. Jika hidup kita tidak berkembang ke arah itu, kita akan menjadi lelah. Karena itu penting sekali menyediakan waktu sendirian bersama Allah (Alone with God).
Tokoh Alkitab yang memiliki solitude adalah Musa. Ia punya kebiasaan pergi dan sendirian bersama Allah di tempat yang sunyi. Setiap kali kembali dari persembunyiannya, wajahnya bercahaya.

Harus kita akui bahwa sebagian besar orang, sangat sulit melakukan solitude di tengah dunia yang ramai ini. Namun banyak orang berhasil menemukan solitude di tengah keramaian dengan cara-caranya yang unik. Suzana Wesley (ibu dari Jhon Wesley) memiliki banyak anak dan ia pun seorang wanita yang sangat sibuk. Namun dia tetap bisa memiliki waktu untuk berdoa dan sendirian bersama Tuhan. Jika anak-anaknya yang banyak itu mengerumuni dia ke mana pun dia pergi, dia cukup menutup wajahnya dengan celemek dan menyendiri bersama Allah.

Mengapa seseorang perlu melakukan solitude? Antara lain untuk mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan yang besar. Sebelum memulai pelayanan-Nya, Yesus menyendiri bersama Bapa-Nya selama 40 hari di padang gurun.

Namun belum tentu seseorang alami solitude walaupun secara fisik dia sendirian, bahkan ketika sedang berdoa sekalipun. Solitude merupakan suatu misteri dimana kita menemukan diri kita bersama Tuhan. Tuhanlah yang memberikan space (tempat) bagi kita bersama-Nya. Keadaannya menjadi sulit kalau kita belum menemukan space itu. Seperti terjadi kegelisahan dan kegaringan di dalam diri kita. Keadaannya sangat berbeda ketika kita sudah menemukan tempat itu. Kita akan menjadi lebih rileks, ramah terhadap orang lain, dan tidak akan merasa kekurangan. Solitude memampukan kita memahami bahwa kita adalah milik Allah. Pengertian akan hal tersebut begitu penting, karena tidak ada makanan, minuman dan unsur yang lain yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh hidup kita. Hanya Allah yang dapat memenuhi-Nya.

Selain ketidaktenangan, apa lagi yang akan terjadi jika tidak ada solitude? Kita akan sangat possesive terhadap berbagai hal, barang ataupun orang. Dalam hubungan dengan orang lain kita kadang-kadang tanpa sadar merasa bahwa kita yang memiliki orang itu.

Bisa juga kita ingin selalu hadir dalam hidup orang lain. Kita sering mengira bahwa kita ini berlaku ramah, padahal kita sudah sangat mengganggu bahkan mencampuri hidup orang lain. Sebaliknya, banyak orang yang sangat absen dalam diri kita. Lalu, di mana panggilan kita? Keduanya. Kadang-kadang kita harus hadir, tapi juga perlu absen dalam kehidupan orang lain. Sama halnya dengan saat kita merasa Allah tidak hadir, hal itu masih wajar. Sesungguhnya, Allah tidak pernah absen. Ia sedang 'menyembunyikan diri'. Allah tidak akan mencampuri semua hal dalam kehidupan kita karena kita punya kebebasan, sekalipun Ia tetap berdaulat atas hidup kita.

Untuk latihan, cobalah melakukan "terapi Sendirian" selama beberapa hari. Misalnya, melakukan retreat. Jangan membawa apa-apa dan biarlah anda sendirian di situ. Maka Anda akan kembali dengan pembaharuan dan kesegaran.

Namun tanpa retreat pun sebetulnya kita bisa melakukan solitude. Aturlah rumah kita, dan carilah tempat di mana kita bisa merasa nyaman ber-solitude. Selain itu, waktu di lift, saat menyetir sendiri, tempat parkit, ruang tertentu di kantor, beberapa sudut di restoran atau lobby hotel adalah beberapa tempat di mana kita bisa mengalami solitude.

SILENCE

Solitude akan membawa kita pada silence (keheningan). Tapi kita sering merasa tidak nyaman dengan keheningan, termasuk pada waktu kebaktian di gereja.
Mengapa kehengingan begitu penting di dalam diri kita?

  • Sebab keheningan menolong kita masuk pada suatu hal yang sifatnya mendalam. Pengalaman yang ajaib membuat kita terpaku, tidak bisa berbicara. Sebaliknya, jal yang sangat sakit juga akan mengakibatkan keheningan. Jadi pengalaman yang sangat dalam ditemukan dalam keheningan

  • Di Alkitab banyak pengalaman yang mendalam terjadi di padang gurun

Pengalaman rohani di padang gurun mengajarkan kita beberapa hal, yakni:

  • Kesederhanaan

    Di padang gurun kita akan menyederhanakan diri.Tidak ada gunanya membawa hal-hal yang tidak esensial. Kita akan melihat pekerjaan Allah daripada pekerjaan manusia. Di kota besar lebih banyak buatan tangan manusia. Jika tidak hati-hati, kita akan lupa pekrjaan Allah. Karena itu sangat penting baig kita untuk pergi ke tempat-tempat yang sunyi. Di sana kita disadarkan sesungguhnya sipaa yang emngendalikan hidp kita

  • Pengenalan yang dalam akan diri kita dan Allah

    Dan di padang gurun bukanlah tempat untuk melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Allah berjalan dengan manusia, tidak berlari. Ketika kita berlari, mungkin kita sedang berlari di depan Allah atau sedang menajuh dari Allah. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang instan. Amibl uang tinggal tekan tombol. Hal yang serba instan kerap mengajar kita ingin serbacepat. Jawaban doa ingin cepat. Begitu juga soal kekudusan, kita ingin kekudusan yang instan. Padahal kekudusan adalah proses yang panjang

  • Penyembahan

    Di padang gurun kita secra spontan akan menyembah Allah. Namun penyembahan bukanlah semacam ritual yang penuh entertainment, melainkan sebuah penyerahan yang total. Kita perlu membangun kebiasaan seperti in. Perlu diketahui bahwa ketika kita berbicara, kita sedang berusaha mengendalikan orang lain. Sebaliknya ketika diam, kita sedang membiarkan Allah mengendalikan dan mengarahakn pikiran, emosi dan kemauan kita. Dlam keheningan, kita bisa mendengar dan merasakan leibh jelas dan banyak hal-hal yang tidak kita dengar dan rasakan pada waktu kita bicara

  • Sebagai latihan, pada waktu anda menutup mata untuk berdoa, coa anda belajar untuk berdiam diri dan membiarkan suasana hening untuk beberapa saat sebelum anda berdoa. Selain itu, anda juga bisa membangun sikap hening dalam ibadah di gereja, baik sebelum maupun sesudah ibadah, bahkan di tengah-tenagh berlangsungnya kebaktian

STILLNESS

MTV memang bisa merupakan suatu bentuk kreatifitas, namun ia juga bisa menjadi suatu contoh kehidupan yang penuh dengan ketidaktenangan. Tampilannya bergerak terus, menandakan kegelisahan (restlessness). Ini seakan menunjukan bahwa pembuatan film abadi ini penuh denagn kegelisahan. Semuanya serba bergerak dengan cepat, tidak tenang. Ketenangan yang tampak dari luar seringkali menunjukkan adanya ketenangan dari dalam. Hati yang tidak tenang bermuara dari hubungan yang tidak benar dengan Allah.
Mari kita bandingkan antara ketidaktenangan dengan ketenangan. Kita seringkali bergerak, berlari, namun tidak mendapatkan apa-apa. Mari kita belajar bagaimana berdoa.

Berdoa pada awalnya seperti kita membawa air dari sungai ek rumah dengan gentong atau ember yang dienteng atau dipikul. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi biasanya melewati tidak sedikit aanak tangga. Akan tetapi melalui proses dan waktu yang panjang kita makin terlatih, maka berdoa akhirnya seperti aliran air, bahkan seperti hujan, begitu deras.

Rasa tidak tenang dalam diri kita menandakan kita sedang berada di arah yang salah. Dengan mengubah arah, akan ada ketenangan. Peliharalah sikap untuk memelihara hari Sabat. Dlaam Perjanjian Lama Tuhan menyuruh kita untuk memelihara hari Sabat. Selama ini paradigma kita tentang hari istirahat adalah sebagai upah kita bekerja. Kita memandang istirahat sebagai hak karena kita sduah bekerja. Tetapi yang lebih tepat adalah, kita bekerja karena kita sduah beristirahat. Pada malam hari sementara kita beristirahat (tidur) Allah bekerja. Ia memelihara dan menumbuhkan tanaman. Pagi harinya, baru kemudian kita bekerja. Ini mengajarkan bahwa kita bekerja karena Allah telh bekerja lebih dulu.
Kita menjadi hamba Tuhan karena kita anak Alllah. Kita menjadi hamba Tuhan bukan untuk membuktikan sesuatu, utnuk mendapatkan sesuatu, atau untuk mendapatakan rasa aman. Kita menjadi hamba Tuhan sebagai ucapan rasa syukur karean kita adalah anak Allah.

Stillness adalah berdiam diri, baik itu penampakan luar amupun hati kita. Stillness dari luar adalah ketenangan dari segala aktifitas kita. Ini akan menolong kita tidak terjebak dalam kegiatan yang tidak berarti. Stillness dari dalam adalah hati yang tenang. Bisa saja kita tenang secara fisik tapi hati kita gelisah. Oleh karena itu, carilah ketenangan, yang datang dari kedamaian bersama Allah.

Bagaimana kita bisa mempraktekkan stillness? Puasa kegiatan! Perlu kita ketahui bahwa tujuan awal hari libur (holiday) adalah untuk beristirahat. Tetapi banyak justru di hari libur kita menjadi lebih sibuk. Salah satu cara menikmati liburan adalah dengan tidak melakukan apa-apa. Jangan sampai perlu mengalami musibah atau kecelakaan dulu aru bisa berdiam diri. Nikmatilah saat-saat yang tenang. Karena waktu tenang adalah waktu untuk memperkaya atau memelihara kehidupan rohani kita. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga hari Sabat dengan sungguh-sungguh beristirahat. Kalalu kita bisa tenang dari dalam, kita pun bisa tenang dari luar.

SIMPLICITY

Hidup makin rumit. Banyak hal yang harus kita urus. Kita dihujani oleh berbagai informasi dan komoditi. Di sinilah kita perlu belajar dan menemukan simplicity (kesederhanaan). Sederhana secara lahiriah mungkin bisa saja kita miliki, akan tetapi sangat sulit untuk memiliki kesederhanaan secara batin. Kesederhanaan secara batin menyangkut kemurnian hati dan motivasi dalam hidup.
Saran praktis untuk memiliki kesederhanaan secara lahiriah (outer simplicity):

  1. Belilah barang-barang yang tujuannya untuk digunakan bukan untuk prestise
  2. Tolak segala hal yang mendatangkan kecanduan/keterikatan
  3. Bangunlah kebiasaan memberi barang-barang yang tidak kita gunakan kepada orang lain. Sebab pada dasarnya kita ini pengumpul sampah. Kita sering mengoleksi barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan
  4. Belajar untuk memiliki sesedikit mungkin barang
  5. Belajar untuk tidak mudah mempercayai apa yang diiklankan. Mereka menciptakan kebutuhan dalam diri kita untuk barang atau hal-hal yang sesungguhnya tidak kita butuhkan. Sering orang merasa barang itu adalah kebuuthannya karena iklan yang mengatakan demikian
  6. Belajar untuk menikmati barang tanpa harus memilikinya. Misalnya, kalau mau baca buku yang bagus, kita tidak perlu membelinya, datang saja ke perpustakaan. Banyak pemilik rumah pantai yang terlalu sibuk sehingga tidak bisa menikmatinya. Kita cukup meminjam atau menyewanya. Mau lihat ikan kunjungi saja berbagai tolo ikan hias atau ke Seaworld
  7. Hati-hati dengan propaganda credit card: "beli sekarang bayar kemudian". Karena kita akan terjebak pada hutang. Dan yang terpenting, hindari dari segala hal yang bisa menyimpangkan kita dari sasaran utama kita. Di dunia ini terlalu banyak pilihan. Jangan habiskan waktu untuk memilih. Fokuskan pada tujuan utama hidup kita
  8. Hati-hati juga bahwa beli barang yang murah tidak selalu berarti kesederhanaan. Dalam membeli barang selain memperhatikan faktor price juga faktor: durability, sability & beauty

Saran praktis untuk memiliki kesederhanaan secara batiniah (inner simplicity):

  1. Belajar akan rahasia contentment: enough is enough
  2. Sadari bahwa only few things are needed. (Luk. 10: 41)
  3. Belajar mendengar secar kritis suara-suara batiniah dan suara-suara dari luar
  4. Belajar untuk mengetahui mana suara Allah dan mana yang tidak
  5. Miliki rasa aman dan harga diri di dalam Kristus bukan pada berbagai gelar, posisi atau banyaknya harta benda kita

© 2008. Perkantas Graduate Center. All Rights Reserved.
Developed by AITINDO | XHTML | CSS