“Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya…” (Mar 14: 8a), kata Tuhan Yesus menanggapi kata-kata yang mengkritik bahkan memarahi seorang perempuan yang mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak wangi yang mahal.
Tidak jarang kita takut berbuat sesuatu yang baik karena takut dikritik orang. Kita takut terlibat melayani atau memulai suatu pelayanan, karena takut dikritik: “Buat apa, apa ada gunanya itu?” atau “Ya cuma segitu, buat pelayanan yang besar dong.” Kita bahkan takut mendukung dana pelayanan karena takut dinilai: “Kok cuma segitu” atau kita sendiri berpikir: “Pemberian saya sekarang tidak ada artinya, nanti kalau bisa kasih lebih besar.” Celakanya kalau semua orang berpikir seperti itu, berapa banyak pelayanan yang menderita kekurangan dana.
Dalam kitab Markus 14, ayat 3, dikatakan: “… datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.”Bagaimana reaksi orang-orang yang melihat hal itu? Seharusnya mereka kagum dan memuji perbuatan perempuan itu, bukan? Tapi yang terjadi yaitu mereka gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih (kira-kira gaji sepuluh bulan) dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin” (ay 4-5). Kelihatannya benar juga kritikan mereka.
Dalam melayani, sering kritikan orang terhadap apa yang kita lakukan juga ada benarnya. Namun sadari atau tidak, kritikan-kritikan seperti itu membuat tidak sedikit orang menjadi takut bahkan trauma untuk melakukan pelayanan bahkan memberi usul dikesempatan berikutnya. Tentu ini sangat disayangkan.
Bagaimana reaksi Tuhan Yesus? Apakah Ia bersikap sama? Syukurlah, Ia tidak seperti itu. Ia sebaliknya menegur orang-orang yang mengkritik dan memarahi perempuan itu. Ia bahkan memuji apa yang perempuan itu lakukan kepadaNya. Sebab tanpa ia sadari, wanita itu telah berbuat sesuatu yang sangat berkenan kepada Yesus. “Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.” (ay 6). “Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku” (ay 8b). Bukankah itu sangat luar biasa. Bahkan di ayat 9, Tuhan Yesus berkata:”Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga (‘will also be told’), untuk mengingat dia (‘in memory of her’).” Luar biasa bukan? Apa yang awalnya hanya suatu perbuatan yang perempuan itu kira dapat dilakukannya, ternyata menjadi suatu yang indah dan mulia.
Belajar dari kejadian ini, mari kita lakukan apa yang dapat kita lakukan saat ini kepada Tuhan. Kita perlu belajar untuk tidak takut dengan kritikan atau penilaian orang. Yang penting kita berusaha lakukan yang bisa kita lakukan untuk Tuhan. Apakah kita hanya bisa melayani di satu bidang pelayanan alumni: jadi pengurus PAK, terlibat dalam pelayanan Family Ministry, Persekutuan Guru, Mini MBA, atau ikut dalam kepanitiaan Kamp Alumni. Atau saat ini kita hanya bisa dukung dalam dana.
Seperti pengalaman perempuan itu, siapa tahu apa yang kita lakukan bisa terjadi sangat berkenan pada Allah dan ternyata kita terlibat dalam pekerjaanNya yang mulia.